Mari Mencontoh Kisah Cinta Fatimah dan Ali ! (CERITA LENGKAP)

Kisah Cinta Fatimah dan Ali – Kisah cinta Ali dan Fatimah sudah tidak asing lagi di kalangan akhwat wa ikhwan di Indonesia, memang sangat mengagumkan. Kabarnya, mereka telah menyimpan perasaan satu sama lain. Istilahnya “cinta dalam diam”. Tidak sedikit juga lho remaja Indonesi zaman sekarang lebih memilih mencintai dalam diam, tapi masih sering update status di sosial media tentang isi hatinya. Padahal, cinta dalam diam itu ya benar-benar hening. Bahkan setan pun tak mampu mengendusnya. Bagi para pecinta dalam diam atau yang saat ini sedang meresahkan jodohnya, silahkan baca kisah cinta Ali dan Fatimah di bawah ini sampai habis.

Kisah Cinta Fatimah dan Ali 1

Fatimah, putri tercinta dari seorang utusan Allah Muhammad SAW sungguh memesona. Perempuan yang telah membuat Ali jatuh hati, perasaan yang berusaha disimpannya serapat mungkin, bahkan setan pun tidak mengetahui hal itu. Ali terpesona dengan kesantunan, keindaha paras, ibadah dan kecekatan kerja sosok Fatimah. Hal ini berawal dari sebuah insiden yang mengoyak hati Fatimah, dia mendapati ayahnya pulang dengan berlumur darah dan kepala yang penuh dengan isi perut unta. Fatimah membersihkan luka ayahnya dengan sangat hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. ia membakar perca, lalu ditempelkannya ke luka itu untuk menghentikan darahnya. Fatimah melakukannya dengan air mata yang terus mengalir.

Kisah Cinta Fatimah dan Ali 1Gadis cilik itu bergegas menemui pemuka Quraisy, ditemukannya gerombulan Quraisy tengah tertawa, merasa bangga dengan tindakannya kepada Rasulullah. Fatimah menghampiri mereka, dibuat bungkam semua mulut di sana. Fatimah menghardik tanpa memberi kesempatan untuk menimpali. Ali kagum dengan keberanian Fatimah pada saat itu, perasaan itu akhirnya muncul namun dia sendiri tidak mengetahuinya apakah itu bernama cinta. tapi selang beberapa waktu, ia dikejutkan dengan kabar yang membuat hatinya resah. Fatimah dilamar oleh seorang laki-laki yang sangat dekat dengan Rasulullah, lelaki yang iman dan akhlaknya tidak diragukan lagi. Pemuda itu adalah Abu Bakar Ash-Siddiq. Semangat Ali untuk memiliki Fatimah menciut, ia membandingkan dengan dirinya sendiri. Lelaki itu jauh lebih baik, keimanan dan pembelaannya terhadap Allah dan Rasul-Nya tidak tertandingi. Terbayang ketika Abu Bakar menjadi kawan perjalanan nabi ketika hijrah, sementara Ali sendiri diminta untuk menggantikan Rasulullah dengan berbaring di ranjangnya. Terbayang pula betapa banyaknya tokoh bangsawan dan saudagar Mekkah yang masuk islam karena perjuangan Abu Bakar dalam berdakwah. Tidak hanya itu, ada banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela oleh Abu Bakar. Dari sisi finansial, Abu Bakar lebih layak membahagiakan Fatimah, dia adalah pemuda kaya. Sangat berbeda dengan Ali.

“Aku hanya pemuda miskin dari keluarga miskin,” gumam Ali.

“Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, dan mengutamakan kebahagiaan Fatimah atas cintaku.” Gumam pemuda itu sekali lagi.

Kisah Cinta Fatimah dan Ali 1Waktu terus berjalan, harapan itu kembali subur setelah mendengar kabar bahwa Fatimah menolak pinangan Abu Bakar. Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Tapi lagi-lagi, sebuah kabar kembali membuatnya nyaris tumbang. Setelah Abu Bakar mundur, seseorang yang tidak kalah hebatnya kembali datang meminang Fatimah. Laki-laki yang gagah perkasa, yang membangkitkan muslim kala itu, seorang lelaki yang membuat setan berlari dan menjadikan musuh-musuh Allah bertekuku lutut. Umar ibn Al Khaththab, seorang panglima kebenaran itu melamar putri Rasulullah SAW. Berbeda dengan Ali dan Abu Bakar, Umar memang masuk islam belakangan, kisaran tiga tahun setelah keduanya mengucapkan dua kalimah syahadat. Tapi siapa sangka pengorbanan dan perjuangannya terhadap islam luar biasa hebat. Betapa tinggi kedudukan Umar di sisi Rasulullah SAW. Ali sekali lagi tersadar, dia bukan apa-apa dibandingkan dengan lelaki pemberani itu. Berdasarkan penilaian dari orang banyak, sungguuh Ali termasuk dalam kategori belum siap untuk menikah. Apalagi menikahi seorang anak dari kekasih Allah, Fatimah binti Muhammad. Sungguh Umar lebih layak, pada hari itu Ali kembali ridha.

Ali terus menerka-nerka, menantu yang seperti apakah yang diingnkan oleh Rasulullah SAW. Apakah seorang miliarder seperti Utsman yang telah mendapatkan Ruqayyah binti Rasulullah?  Atau seperti Abul ‘Ash ibn Rabi’kah, suami Zainab yang merupakan saudagar Quraisy? Sungguh dua menantu Rasulullah itu telah mengilangkan kepercayaan diri seorang Ali.

“Mengapa bukan engkau yang mencobanya?” ujar salah seorang kawan Ansharnya, suara itu membuyarkan lamunan Ali.

“Aku?” tanyanya tidak yakin.

“Aku hanya pemuda miskin, apa yang bisa kuandalkan?” ujarnya tak percaya diri.

“Kami di belakangmu, semoga Allah menolongmu, Kawan!”

Kisah Cinta Fatimah dan Ali 1Dikumpulkannya keberanian, Ali akhirnya menemui Rasulullah. Disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fatimah, meski ia tahu bahwa dari segi ekonomi ia sangat kekurangan. Ali hanya memiliki satu set baju besi beserta persediaan tepung kasar untuk mengganjal perutnya. Tapi, Ali tidak mungkin menunda lagi, usianya sudah kepala dua. Dia siap memikul semua tanggung jawab dan segala resiko atas pilihannya. Dia meyakini bahwa Allah Maha Kaya. Lamaran Ali akhirnya terjawab, “Ahlan wa sahlan”. Kalimat itu meluncur dari bibir Rasulullah yang diiringin dengan senyuman.

Setelah semuanya siap, dengan perasaan puas dan gembira, disaksikan oleh para sahabat, Rasulullah mengucapkan ijab kabul pernikahan putrinya.

“Bahwasanya Allah memerintahkan aku supaya menikahkan engkau dengan Fatimah atas mas kawin empat ratus dirham, mudah-mudahan engkau dapat menerimanya.”

Maka menikahlah Ali dengan Fatimah yang telah menggadaikan baju besinya. Meski terbilang sangat sederhana, tapi justru pernikahan mereka sangat hikmat. Ali adalah pemuda sejati, wajar saja kalau pemuda Arab memiliki yel,  “Laa Fatan illa Aliyyan!” Tidak ada pemuda kecuali Ali. Inilah jalan cinta bagi para pejuang. Cinta tidak pernah meminta untuk menanti, seperti cinta Ali yang mempersilahkan dan mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan dan yang selanjutnya adalah keberanian.

Kisah Cinta Fatimah dan Ali 1Di sisi lain, tak kurang juga yang dilakukan oleh Fatimah. Dalam satu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah mereka menikah, Fatimah berkata kepada suaminya, Ali. “Maafkan aku karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali jatuh cinta dengan seorang pemuda.”

Mendengar hal itu, Ali terkejut dan berkata, “Kalau begitu, mengapa engkau mau menikah denganku dan siapa pemuda itu?” tanyanya.

Sambil tersenyum, Fatimah menjawab pertanyaan Ali. “Karena sesungguhnya pemuda itu adalah dirimu.” Inilah bagian paling romantis dari hubungan mereka. Cinta yang selama ini Ali perjuangkan, ternyata di sisi lain Fatimah juga menyimpan perasaan yang sama kepada Ali. Sungguh jodoh tidak akan pernah tertukar.

                Jadi bagaimana para reader? Kisah cinta pasangan ini mengagumkan, bukan? Sepenggal cerita yang mengajarkan kita agar selalu berprasangka buruk kepada  Tuhan, bahwa jodoh tidak akan pernah tertukar atau pun salah sasaran. Allah selalu punya cara mengejutkan untuk membayar semua perjuangan hamba-Nya. Dalam hal urusan jodoh, tidak ada yang perlu diresahkan. Semua telah diatur oleh Allah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *